KOMPAS.com – Wakatobi merupakan surganya para penyelam berbagai penjuru dunia. Jika wisatawan asing saja dibuat terpesona, tidakkah kamu ingin ke sana? Terletak di Sulawesi Tenggara (Sultra), Wakatobi adalah salah satu surga wisata bahari kebanggaan Sulawesi.
Keindahan bawah lautnya yang memesona menjadi salah satu spot diving terbaik di Nusantara. Tak cuma itu, kawasan karang penghalang (barrier reef) di Wakatobi juga merupakan yang terbesar di Indonesia.
Namun, pesona Wakatobi tak hanya soal laut biru dan terumbu karang warna-warni. Di setiap pulaunya tersimpan berbagai aktivitas yang sayang jika dilewatkan, mulai dari menyelam bersama ribuan biota laut, menyaksikan lumba-lumba menari, hingga mengenal kehidupan Suku Bajo yang hidup berdampingan dengan laut.
Bahkan, kuliner khasnya mampu membuat wisatawan ingin kembali lagi.
Jika kamu berencana liburan ke Wakatobi, empat aktivitas berikut wajib masuk dalam itinerary.
Baca juga: Festival Wowine 2025, Perayaan Agung Ketangguhan Perempuan Wakatobi
Tak lengkap rasanya datang ke Wakatobi tanpa menyelam di taman lautnya yang tersohor. Sejak ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO pada 2012, Taman Nasional Wakatobi dikenal memiliki keanekaragaman biota laut yang luar biasa.
Sedikitnya 750 dari total 850 spesies karang dunia tumbuh subur di perairan ini.
Air lautnya begitu jernih hingga jarak pandang bawah air bisa mencapai puluhan meter. Dari ikan-ikan kecil berwarna cerah hingga penyu dan pari manta yang berenang anggun, semuanya berpadu dalam harmoni ekosistem laut yang menakjubkan.
Tak heran jika penyelam profesional dunia menobatkan Wakatobi sebagai salah satu lokasi diving terbaik di dunia.
Bagi yang ingin menikmati keindahan laut tanpa menyelam, wisata dolphin watching di sekitar Pulau Kapota bisa menjadi pilihan. Dari Pulau Wangi-Wangi, kamu hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 15 menit dengan kapal untuk tiba di lokasi.
Baca juga: Festival Bajo Wakatobi: Harmoni Laut, Tradisi, dan Harapan Baru
Setiap pagi antara pukul 06.00 hingga 07.30 waktu setempat, kawanan lumba-lumba muncul di permukaan laut, menari dan melompat riang di antara riak ombak.
Saat cahaya mentari pagi menyapu permukaan air, pemandangan ini terasa begitu magis, seolah alam tengah mempersembahkan pertunjukan eksklusif hanya untukmu.
Suku Bajo dikenal sebagai “pengembara lautan”. Di Wakatobi, kamu bisa mengenal kehidupan mereka lebih dekat di Kampung Bajo Mola.
Kampung tersebut berbeda dari perkampungan lain di Indonesia. Di sini, pekarangan rumah bukan tanah, melainkan laut yang tenang dengan air sejernih kaca.
Anak-anak berlarian di atas jembatan kayu yang menghubungkan rumah-rumah panggung, sementara para nelayan menyiapkan perahu kecil untuk melaut.
Baca juga: Berminat Punya Rumah di Kawasan Wisata Wakatobi? Cek Pilihannya

Berbincang dengan warga Bajo membuka pandangan tentang bagaimana manusia bisa hidup begitu selaras dengan laut. Mereka masih memegang teguh tradisi membaca arah angin, arus laut, hingga rasi bintang untuk menentukan waktu berlayar dan menangkap ikan.
Semua dilakukan berdasarkan pengetahuan turun-temurun yang diwariskan dari leluhur mereka.
Beranjak dari lautan, perjalanan bisa kamu lanjutkan ke Danau Sombano, yang terletak di Desa Sombano, Kecamatan Kaledupa. Danau ini memanjang sekitar 700 meter dari garis pantai dengan dikelilingi pepohonan rindang dan suasana hutan yang masih alami.
Airnya jernih berkilau kehijauan, menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna, termasuk udang merah darah, spesies endemik yang hanya ditemukan di sini.
Duduk di tepi danau sambil menikmati semilir angin laut memberikan sensasi tenang, seolah waktu berhenti berjalan di tengah keheningan alam Wakatobi.
Baca juga: Puluhan Penyelam Bersihkan Sampah Laut Wakatobi Demi Keberlangsungan Ekosistem
Itulah empat destinasi wisata di Wakatobi yang wajib masuk dalam bucket list liburanmu.
Sembari menyusuri destinasi tersebut, perjalanan tak lengkap tanpa mencicipi kuliner khas setempat. Tak sekadar nikmat di lidah, kuliner di Wakatobi adalah cerminan budaya yang erat dengan laut.
Salah satu hidangan paling ikonik adalah Perangi, yakni sajian ikan mentah segar yang diolah tanpa dimasak. Sensasi menikmatinya mirip dengan sashimi dari Jepang atau ceviche dari Amerika Latin.
Namun, bagi masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara, tradisi menyantap ikan mentah sudah ada jauh sebelum pengaruh luar datang.
Suku Bajo dan masyarakat pesisir Wakatobi mempercayai bahwa ikan segar yang baru ditangkap mengandung “energi laut” yang membawa keberkahan dan kekuatan bagi tubuh. Karena itu, Perangi tidak hanya soal cita rasa, tetapi juga ritual menghormati laut yang menjadi sumber kehidupan.
Baca juga: Super Air Jet Buka Rute Penerbangan Langsung Makassar-Wakatobi
Daging ikan segar dicincang halus, lalu dicampur dengan perasan jeruk nipis, cabai merah segar, bawang merah, dan garam secukupnya. Proses ini membuat protein ikan ‘matang’ secara alami melalui asam jeruk, menghasilkan tekstur lembut dengan cita rasa segar dan sedikit pedas yang menggugah selera.
Disajikan tanpa nasi, Perangi biasanya dinikmati dalam suasana santai di tepi pantai atau di rumah panggung Suku Bajo. Makin nikmat saat disantap dengan ditemani obrolan ringan tentang laut dan cuaca.
Selain Perangi, masih banyak kuliner khas Wakatobi lainnya yang wajib dicoba. Ada pula Karasi, mi kering yang dibuat dari tepung beras dan digoreng hingga renyah.
Lalu, ada juga ikan Dole, olahan ikan yang menyerupai nugget dengan rasa gurih alami, serta Hesoami dan Hegule, kudapan tradisional yang biasa disajikan dalam upacara adat.
Jangan lewatkan pula jus Sampalu, minuman segar berbahan asam lokal yang dipercaya mampu mengembalikan tenaga setelah seharian beraktivitas di bawah sinar matahari.
Baca juga: 50 Penyelam Kibarkan Merah Putih di Bawah Laut Wakatobi
Wakatobi bukan sekadar destinasi wisata. Mengunjunginya adalah perjalanan menyelami keindahan dan kearifan hidup. Dari birunya laut hingga rasa asam segar Perangi di lidah, setiap pengalaman di sini meninggalkan kesan yang melekat lama.
Wakatobi menunggu untuk kamu jelajahi, yuk kunjungi surga kecil di timur Indonesia yang keindahannya abadi.