KOMPAS.com – “Kasih Betadine aja” atau “cepat kasih Betadine” adalah dua kalimat yang kerap terdengar saat ada seseorang mengalami luka, baik akibat terjatuh dari sepeda atau saat bermain, teriris pisau dapur ketika memasak, ataupun tergores cutter saat unboxing paket belanjaan online.
Sudah setengah abad botol kuning itu setia mendampingi masyarakat dari balik kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang tersedia di rumah-rumah, sekolah, dan kantor. Bahkan, jadi bawaan wajib saat melakukan perjalanan.
Lebih dari sekadar merek antiseptik, Betadine juga telah menjadi bagian dari cerita hidup masyarakat. Hadir dalam proses pulih dari luka kecil hingga memberikan pelajaran tentang bangkit kembali. Peran tersebut menjadikan Betadine sebagai merek "old but gold" yang tak lekang waktu.
Di balik kepercayaan masyarakat terhadap Betadine yang begitu mengakar, tersimpan kisah sederhana dari seorang pria yang tak pernah membayangkan inisiatifnya akan menyentuh jutaan keluarga di Indonesia.
Dia adalah Kahar Tjandra atau Tjan Ke Hoat. Pria ini memulai perjalanannya dari kehidupan serbaterbatas di Sawahlunto, Sumatera Barat.
Sejak usia belia, anak pegawai tambang batu bara itu harus menyiasati hidup. Ia bertani, memelihara ayam, membuat tambak ikan, lalu menjual hasilnya.
Begitu pula saat Kahar bersekolah di Padang. Ia lagi-lagi harus bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri. Ia mendorong gerobak berisi pisang dan kelapa, lalu menjajakannya keliling kota.
Bahkan, di saat teman-temannya fokus belajar, kerja keras itu tetap Kahar lakoni. Ini tak lepas dari tekadnya untuk bisa terus sekolah sehingga impiannya tercapai.
Ketekunan dan semangat pantang menyerah membawa Kahar menempuh pendidikan kedokteran di Jakarta. Tepatnya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Setelah studinya selesai, Kahar mengabdi sebagai dokter militer di Resimen Para Komando Angkatan Darat, cikal bakal Kopassus.
Meski telah menjalani profesi dokter, jiwa bisnis Kahar tak pernah luntur. Usai menyelesaikan masa tugasnya di militer, ia mendirikan Apotek Mahakam di ruang tamu rumahnya di bilangan Jakarta Selatan pada 1967. Sepuluh tahun kemudian, takdir membawa Kahar pada peluang yang mengubah segalanya.
Pada 1977, sebuah distributor produk antiseptik yang mengandung povidone-iodine mengalami krisis manajerial. Di saat banyak yang menghindari berbisnis dengan perusahaan tersebut, Kahar justru melihat peluang. Bersama sang istri, Evy, yang bercita-cita memiliki pabrik farmasi, ia mendalami literatur medis dan pasar antiseptik.
Melalui PT Daya Muda Agung, Kahar mulai membangun kembali kepercayaan konsumen terhadap produk antiseptik modern.
Namun, mewujudkan impian tersebut bukan perkara mudah. Ini lantaran produksi awal masih bergantung pada pihak luar.
Meski demikian, semangat Kahar untuk menghadirkan antiseptik berkualitas untuk masyarakat Indonesia tetap menyala.
Tiga tahun berselang, pada 1980, lisensi resmi untuk memproduksi Betadine secara lokal berhasil diperoleh. Dari situlah, PT Mahakam Beta Farma berdiri pada tahun yang sama.
Pabrik pertamanya hanya berupa ruang kecil di gang sempit Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Saking kecilnya, tempat itu nyaris tak layak disebut pabrik. Apalagi, pabrik tersebut hanya berisi 10 pekerja yang beroperasi sepenuhnya manual tanpa mesin produksi modern.
Bahkan, Kahar dan keluarganya pun turun tangan langsung, meracik, menakar, hingga mengepak produk. Setiap Sabtu malam mereka bergadang. Esok paginya, Kahar sudah kembali ke pabrik untuk bekerja.
Dari tempat sederhana itulah Betadine mulai dikenal dan menyebar ke seluruh penjuru Indonesia.
Betadine awalnya hanya tersedia di rumah sakit dan klinik. Produk ini digunakan oleh tenaga medis untuk menangani luka, khususnya dalam situasi yang membutuhkan penanganan cepat dan higienis. Namun, seiring waktu, kehadiran Betadine meluas ke lingkungan rumah tangga.
Visi Kahar mendorong perubahan tersebut. Ia percaya bahwa setiap keluarga, terutama para ibu, harus memiliki akses terhadap perawatan luka yang praktis dan efektif di rumah. Tidak semua luka perlu dibawa ke rumah sakit. Untuk goresan ringan atau jatuh saat bermain, Betadine cukup untuk menjadi solusi pertama.
Melalui Betadine, Kahar juga ingin membantu masyarakat memahami bahwa perawatan luka tidak bisa dianggap sepele.
Ruang Betadine untuk berinovasi semakin terbuka seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebersihan. Tidak lagi berfungsi sebagai antiseptik untuk luka, merek ini juga berkembang menjadi bagian dari solusi untuk berbagai kondisi yang dialami oleh setiap orang, mulai dari obat kumur, antiseptik kulit, hingga perawatan area kewanitaan.
Selama 50 tahun terakhir, Betadine telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Produk ini menjadi bagian dari rutinitas keluarga dalam menjaga kesehatan, dari generasi ke generasi.
Botol kuning yang khas itu tetap hadir di banyak rumah sebagai simbol perlindungan dan kewaspadaan.
Country Head iNova Pharmaceuticals Indonesia Benyamin Wuisan mengenang peran Betadine dalam kehidupan masyarakat.
Ia mengatakan, orang-orang yang lahir dan tumbuh besar pada era 1970-an dan 1980-an, termasuk dirinya, mengalami masa kecil yang mana jika jatuh atau luka, diobati dengan Betadine.
“Betadine tidak hanya sekadar produk, tapi sudah menjadi bagian dari momen penyembuhan dan perawatan dalam keluarga,” ujar pria yang akrab disapa Beno kepada Kompas.com, Rabu (30/7/2025).
Beno mengakui bahwa dirinya termasuk generasi yang tumbuh bersama Betadine.
“Hidup kita dari kecil—anak-anak zaman dulu—enggak ada gadget. Kami bermain di luar, sama teman-teman, main sepeda, lari-larian, main bola, segala macam. Terjatuh atau terluka adalah hal biasa. Hari ini pakai Betadine untuk mengobati, besoknya sudah bisa lari-lari lagi,” kenangnya.
Pengalaman personal itulah yang membuat Beno memahami betul peran Betadine dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
“Jadi buat saya pribadi, Betadine sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup dan tidak terpisahkan dari perkembangan saya,” tuturnya.
Tantangan terbesar Betadine saat ini adalah tetap relevan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat. Jika dulu anak-anak bermain di luar dan sering terluka, kini mereka lebih banyak bermain dengan gadget di dalam rumah.
Beno juga melihat perubahan perilaku konsumen yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Konsumen sekarang sangat peduli dan cerdas mencari solusi terkait kesehatan.
"Kalau dulu, mungkin orangtua yang menentukan, apa yang dikasih dokter ya itu yang dipakai. Kalau sekarang, konsumen jauh lebih pintar mencari informasi dan solusi," katanya.
Perubahan perilaku konsumen tersebut memaksa Betadine untuk berinovasi, tidak hanya dari segi produk, tapi juga cara berkomunikasi dengan masyarakat.
Beno mencontohkan bagaimana cara orang mencari informasi kesehatan telah berubah drastis. Dulu, saat sakit atau butuh informasi, orang tinggal bertanya kepada orangtua.
"Sepuluh tahun yang lalu, lima tahun yang lalu, carinya di Google. Sekarang, anak-anak muda carinya di media sosial,” ungkapnya.
Hasil riset yang dilakukan iNova juga menunjukkan pergeseran yang mengejutkan. Ketika melakukan riset dengan Gen Z, mereka sudah tidak menyebut Google sebagai mesin pencari utama.
"Mereka bilang, 'ya, kita nyarinya di TikTok'. Wow, itu menunjukkan pergeseran yang luar biasa," kata Beno.
Perubahan tersebut membuat Betadine harus hadir di platform digital yang tepat. Tidak hanya di media sosial, tapi juga dalam hal distribusi.
Kini, konsumen bisa memesan produk kesehatan melalui e-commerce dan mendapatkan pengiriman di hari yang sama. Kemudahan ini menjadi bagian dari strategi inovasi Betadine untuk tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Untuk tetap terhubung dengan generasi muda, Betadine menggandeng Yura Yunita sebagai “Campaign Ambassador Betadine 50 Tahun”. Pemilihan penyanyi muda ini bukan tanpa alasan.
Yura adalah sosok figur dari generasi muda yang mewakili perempuan dan keluarga muda Indonesia. Ia terus berkarya, sangat inspiratif, aktif, dan menerapkan gaya hidup sehat. Oleh karena itu, Yura dianggap sebagai representasi semangat "Unstoppable" yang diusung Betadine.
Terkait semangat itu, Beno meyakini bahwa dalam hidup, orang sering jatuh, luka, sedih, atau menghadapi tantangan.
“Namun, sebagai manusia, kita harus siap. Enggak boleh terlalu lama jatuh, enggak boleh terlalu lama luka. Kita harus bangkit, berdiri lagi, lari lagi, kejar lagi tujuan hidup kita,” ujar Beno.
Filosofi tersebut sangat sejalan dengan perjalanan hidup setiap orang. Beno mencontohkan para atlet yang pasti mengalami jatuh dan luka.
“Namun, mereka tidak berhenti di situ. Luka, sembuh, terus lanjut lagi untuk mengejar kemenangan atau cita-cita mereka,” tutur Beno.
Betadine terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern. Saat ini, fokus pengembangan produk terpusat pada tiga kategori utama, yaitu perawatan luka, perawatan mulut dan tenggorokan, serta perawatan area kewanitaan.
Beno menegaskan bahwa inovasi tak hanya soal teknologi, tapi juga soal relevansi. Contohnya, Betadine kini hadir dalam berbagai bentuk kemasan.
Ada kemasan besar untuk disimpan di rumah, ada yang kecil untuk dibawa bepergian, bahkan ada yang berbentuk salep untuk kemudahan pemakaian. Menariknya, beberapa produk antiseptik sempat viral di media sosial terutama di TikTok karena masyarakat menemukan cara baru menggunakannya, seperti untuk membantu menjaga kebersihan tubuh secara menyeluruh.
Edukasi juga menjadi bagian penting dari inovasi. Betadine aktif bekerja sama dengan tenaga kesehatan dan influencer untuk menyampaikan informasi kesehatan dengan cara yang mudah dipahami generasi muda.
Di usia 50 tahun, Betadine punya pesan khusus untuk generasi muda Indonesia. Beno meyakini bahwa semua orang menginginkan generasi muda yang kuat, tangguh, dan tidak takut menghadapi tantangan.
"Sekarang ini, tantangannya luar biasa. Tantangan hidup dari kondisi ekonomi, pekerjaan, kehidupan sosial, dan lain-lain. Itu semua berat," katanya.
Harapannya, generasi muda Indonesia harus tangguh dan tidak takut tantangan. Mereka juga harus sadar bahwa dalam hidup wajar jika jatuh, sedih, atau terluka.
Hal terpenting bukanlah menghindari jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit.
“Kita harus siap untuk bangkit, berdiri tegak, dan lari lagi, untuk mengejar tujuan dan cita-cita kita,” ujarnya.
Namun, Beno menekankan pentingnya kesehatan. Menurutnya, hal ini adalah fondasi dari semua impian dan langkah yang ingin diambil.
“Karena itu, buat generasi muda penting banget untuk menjaga kesehatan dan menambah pengetahuan tentang gaya hidup sehat. Tugas iNova sebagai pemegang merek Betadine adalah mendampingi perjalanan tersebut. Ketika kalian terluka, secara fisik ataupun kondisi kesehatan yang terganggu, kami ingin hadir, membantu, mendampingi agar kalian tetap unstoppable,” ucap Beno.
Memasuki usia 50 tahun, Betadine tidak berhenti berinovasi. Komitmen utama tetap sama, yaitu menghadirkan produk berkualitas, efektif, dan dapat ditoleransi dengan baik untuk masyarakat Indonesia.
"Harapan kami tidak hanya 50 tahun ke belakang, tapi juga 50 tahun, 100 tahun, bahkan 200 tahun ke depan, kami ingin tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia," kata Beno.
Kunci keberlanjutan itu, kata Beno, terletak pada kemampuan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri.
"Betadine terus menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Filosofi dasarnya tetap sederhana, yaitu memberikan rasa aman dalam penyembuhan,” tandasnya.