TANGSEL, KOMPAS.com - "Saya memilih memaafkan karena saya mau hidup dengan damai. Saya juga lebih memilih untuk banyak bersyukur dan berdoa”.
Begitu ucap Catherine Pandjaitan, putri dari Pahlawan Revolusi Mayor Jenderal TNI (Anm.) Donald Izacus (DI) Pandjaitan yang jadi salah satu korban pembunuhan dalam peristiwa G30S/PKI.
Kalimat tersebut Catherine ucapkan saat dirinya menjadi salah satu narasumber pada siniar atau podcast yang tayang di kanal Youtube.
Dalam podcast itu, Catherine mengaku sudah memaafkan para pelaku pembunuh ayahnya agar rasa dendam tak menguasai hidupnya.
Dengan memaafkan, Catherine mengaku dapat menemukan kedamaian yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
Sikap kesatria yang ditunjukkan oleh Catherine itu pun turut mengundang atensi dari banyak pihak. Salah satunya, dari Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) Irwan Hidayat.
Irwan merasa sangat tersentuh sekaligus terinspirasi atas sikap besar hati yang diperlihatkan oleh Catherine.
Bagi dirinya, pengampunan yang ditunjukkan oleh puteri sulung DI Pandjaitan itu adalah nilai kuat yang perlu menjadi contoh bagi setiap orang.
Atas dasar kekaguman terhadap sikap yang dicontohkan oleh Catherine, Irwan memutuskan untuk mengajak perempuan berusia 77 tahun itu untuk terlibat dalam iklan Tolak Linu yang baru sebagai bintang utama.
Melalui iklan itu, Irwan mengaku ingin menyampaikan pesan moral dan inspiratif kepada banyak orang lewat salah satu produk unggulannya.
Sebenarnya, dirinya sudah pernah membuat iklan yang mengangkat tema pengampunan sekitar 10 tahun lalu.
“Namun, ketika melihat Catherine dalam podcast tersebut, saya merasa bahwa ini jadi saat yang tepat untuk kembali mengusung pesan yang sama. Utamanya, di masa seperti sekarang, di mana banyak orang bertikai, baik di dalam keluarga, perusahaan, maupun antar masyarakat," ujar Irwan saat wawancara dengan awak media di sela jeda syuting iklan terbaru Tolak Linu di Rumah Kucing Cirendeu, Tangerang Selatan, Senin (14/10/2024).
Baca juga: Sido Muncul Gelar Operasi Katarak Gratis untuk 150 Masyarakat di Banjarnegara

Irwan menambahkan, selain memaafkan, Catherine juga bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga para pelaku pembunuhan ayahnya saat mereka datang untuk minta maaf.
Terkait tindakan itu, Irwan memuji Catherine karena mampu menjadi pribadi dengan hati yang lapang.
Irwan juga menyebutkan bahwa nilai pengampunan jauh lebih mendalam dibandingkan dengan sekadar mencintai.
"Mengampuni itu lebih sulit dan lebih dalam dari mencintai. Sebab, dalam cinta, kita memberikan kasih sayang kepada mereka yang memang layak untuk dicintai. Namun, dalam pengampunan, kita memberikan ruang bagi mereka yang mungkin telah menyakiti. Itu adalah sesuatu yang sangat besar," kata Irwan.
Musibah yang menimpa Catherine, tambah Irwan, juga mengingatkannya pada peristiwa pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina, seorang mahasiswi berusia 19 tahun dari salah satu perguruan tinggi di Indonesia.
Pada 2014, Ade Sara dibunuh oleh pacarnya, Ahmad Imam Al Hafid, dan temannya, Asyifa Ramadhani.
Meski korban adalah anak tunggal dari pasangan Suroto dan Elisabeth Diana, tapi kedua orangtua Ade Sara juga memaafkan perbuatan para pelaku.
“Bahkan, ibu korban menyatakan telah beberapa kali mengunjungi Hafid di rumah tahanan dan bertemu dengannya. Sementara, Syifa baru bertemu satu kali karena ia beberapa kali menolak saat dikunjungi," terang Irwan.
Irwan berharap, iklan terbaru Tolak Linu yang melibatkan Catherine dapat memberikan inspirasi kepada masyarakat untuk saling memaafkan.
"Saya harap, (iklan ini) bisa menginspirasi banyak orang. Jika ada satu keluarga saja yang sebelumnya bertikai, lalu saling memaafkan setelah melihat iklan ini, maka saya merasa kampanye ini sudah berhasil," tutur Irwan.
Meski ia dipuji karena memiliki sikap lapang dada, Catherine mengaku bahwa untuk sampai ke titik tersebut bukanlah perkara mudah.
Baginya, peristiwa G30S/PKI yang merenggut nyawa ayahnya adalah tragedi kelam yang terus menghantui ia dan keluarganya. Apalagi, Chaterine menyaksikan secara langsung peristiwa penculikan ayahnya.
Ia yang saat itu baru berusia 17 tahun mengaku bahwa kejadian tersebut selalu jadi mimpi buruk yang terus mengikutinya.
Namun, seiring waktu, Catherine menemukan bahwa jalan menuju kedamaian adalah melalui pengampunan, bukan dendam.
“Setiap kali tanggal 1 Oktober tiba, saya selalu merenung tentang apa yang terjadi pada keluarga saya. Saat itulah saya benar-benar belajar bahwa kebencian hanya akan menambah penderitaan. Saya harus melewati perjalanan spiritual dan emosional yang panjang,” ucap Catherine.
Awalnya, tambah Catherine, dirinya terus merasa marah, kecewa, dan sulit menerima kenyataan karena ayahnya harus meninggal dalam keadaan tragis.
Namun, Catherine menemukan kekuatan dalam keyakinan agamanya yang membantunya untuk melepaskan hal tersebut.
"Saya adalah orang yang taat beribadah. Dalam agama, saya diajarkan bahwa berdamai itu penting. Saya memohon kepada Tuhan untuk memberi saya kekuatan untuk tidak hidup dalam dendam. Seiring waktu, saya melihat Tuhan menggunakan saya untuk menyebarkan pesan kedamaian," ujarnya lagi.
Catherine menambahkan, ia tak ingin terus mendendam karena hal itu dapat membebani orang di sekitarnya, khususnya anak-anak yang ia cintai.
"Saya tidak ingin anak-anak, cucu, atau generasi berikutnya hidup dengan membawa beban kebencian. Jika saya tidak memaafkan, saya hanya akan mengajarkan mereka untuk menyimpan dendam. Saya tidak ingin itu terjadi," ucap Catherine.
Baca juga: Direktur Sido Muncul: Jamu dan Obat Herbal Jadi Pendamping Pengobatan Modern

Baginya, memaafkan adalah cara untuk menghentikan siklus kebencian yang sering kali diwariskan dari generasi ke generasi.
Catherine menekankan bahwa memaafkan adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dan manusia. Terlebih, ia kerap diajarkan hal itu saat beribadah.
Ia juga menyadari bahwa pesan pengampunan yang telah ia jalani selama bertahun-tahun dapat menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pengalaman pribadi.
Itulah yang membuat Catherine bersedia ambil bagian pada iklan Tolak Linu yang dinilai berpotensi untuk memengaruhi banyak orang, terutama masyarakat Indonesia yang masih sering terpecah oleh konflik sosial, politik, dan personal.
"Selama ini, saya berbicara tentang memaafkan di lingkungan kecil, seperti di keluarga dan gereja. Namun, dengan proyek ini, saya merasa diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat yang lebih luas. Ini adalah kesempatan yang sangat saya syukuri," tambahnya.
Catherine berharap, iklan Tolak Linu yang ia kerjakan bersama Sido Muncul bisa menyentuh hati banyak orang agar mereka mau saling memaafkan.
“Kita sudah terlalu sering melihat perselisihan, baik di keluarga, di sekolah, maupun media. Oleh karena itu, iklan ini diharapkan dapat menginspirasi banyak orang,” terang Catherine.
Sebagai informasi, Tolak Linu merupakan obat yang mengandung ekstrak herbal dan madu yang digunakan untuk membantu meredakan pegal linu dan nyeri sendi.