DALAM organisasi-organisasi besar yang kerap mengalami pergantian pucuk pimpinan, para karyawan biasanya dapat merasakan perbedaan suasana di bawah kepemimpinan yang berbeda.
Di sebuah institusi perbankan, misalnya. Karyawan merasa suasana lebih hangat kekeluargaan di bawah kepemimpinan A. Ini lantaran karena pemimpin A bisa mengenal nama karyawan di level terbawah sekalipun.
Sementara, ketika terjadi pergantian pada pimpinan B, mereka merasakan dinamika pekerjaan jauh lebih intens karena tuntutan standar tinggi yang diharapkan oleh pimpinan B.
Pemimpin efektif tidak bisa abai terhadap pengaruh dirinya terhadap warna emosi organisasi yang dibentuknya. Disadari maupun tidak, emosi itu mudah sekali menular.
Pendiri Southwest Airlines, Herb Kelleher, dikenal sebagai orang yang hangat dan mampu membuat orang lain merasa spesial setiap berada di dekatnya. Ia begitu dicintai oleh puluhan ribu karyawannya karena kehangatan dan kepeduliannya.
Suatu ketika, ia sedang pergi bersama CEO perusahaan lain. CEO itu tidak mengenal karyawan yang sedang bersamanya dalam satu lift. Saat ditanya oleh sang CEO tentang cara membangun budaya seperti Southwest, Herb menjawab, “Anda dapat memulai dengan mengatakan halo kepada orang-orang Anda.”
Pemimpin harus memahami kekuatan atmosfer organisasinya. Ia harus sadar bila nada organisasi mengalun dalam suasana dan budaya korporasi yang sesuai dengan nada yang ia inginkan, engagement akan lebih mudah untuk ditingkatkan. Situasi ini tentu memiliki manfaat strategis yang tidak bisa dikopi oleh kompetitor mana pun.
“Mereka dapat membeli semua hal yang bersifat fisik. Hal-hal yang tidak dapat Anda beli adalah dedikasi, pengabdian, dan kesetiaan,” kata Kelleher.
Mengapa pembentukan nada dan irama organisasi itu seperti semacam rahasia dapur tradisional yang tidak ada rumusnya? Beberapa ahli berpendapat, atmosfer organisasi bersifat emosional yang sulit dikendalikan secara sistematis.
Ketika organisasi memerlukan daya tahan untuk beradaptasi, kekuatan dan kejelasan nada organisasi sangatlah penting. Di sinilah, kepekaan dan ketajaman pemimpin diperlukan karena ia memiliki wewenang dan kekuatan untuk menentukan nada yang harus dinyanyikan organisasinya.
“Sebagai pemimpin, Anda menentukan nada untuk seluruh tim,” kata Colin Powell. Lalu, bagaimana cara menentukan nada organisasi?
Pertama, kejelasan dan ketegasan pesan. Masih ingat bagaimana Presiden Jokowi ketika baru menjabat langsung menentukan semangat tim kabinet dengan semboyan “kerja, kerja, kerja”?
Semangat itu ditunjukkan tidak saja melalui tampilan kemeja putih dengan lengan panjang tergulung pada setiap kesempatan kerja, tapi juga kesediaannya untuk turun langsung meninjau lapangan, tidak hanya duduk diam dalam kenyamanan Istana Presiden.
Kebiasaan ini langsung tertangkap oleh anggota kabinet sampai jajaran-jajaran di bawahnya yang secara spontan meniru cara berpakaiannya dan meningkatkan kecepatan berespons.
Beragam birokrasi pun dipersingkat untuk mempermudah penyelesaian masalah.
Tanpa banyak bicara, Presiden Jokowi melakukan sesuatu yang sederhana, dilihat, dan dibicarakan semua orang karena kejelasan pesannya. Terlihat bahwa nada manajemen pemerintah dengan cepat dapat dibentuknya.

Perusahaan Patagonia dengan pendirinya, Yvon Chouinard, tidak segan-segan menghentikan produknya ketika mengetahui dampak kerusakan yang ditimbulkan produknya bagi alam, meski produk tersebut berkontribusi terhadap 70 persen dari total penjualannya.
Ia juga dengan tegas menyumbangkan 1 persen dari total penjualannya (baik untung maupun rugi) kepada komunitas-komunitas yang bergerak untuk konservasi alam.
“Alih-alih mengekstraksi nilai dari alam dan mengubahnya menjadi kekayaan, kami menggunakan kekayaan yang diciptakan Patagonia untuk melindungi sumbernya. Saya sangat serius untuk menyelamatkan planet ini,” kata Chouinard.
Kedua, menetapkan prioritas. Perdana Menteri Etiopia Abiy Ahmed yang diangkat pada 2018 dengan gigih memprioritaskan perdamaian internal dan eksternal, baik dengan negara tetangga Eritrea yang telah berkonflik selama dua dekade maupun dengan kelompok-kelompok militan di Etiopia.
Ia bahkan berperan sebagai mediator dalam menengahi konflik Eritrea dengan Djibouti, juga antara Kenya dan Somalia.
Ketika perdamaian terbangun, rakyat mendapatkan banyak kesempatan pekerjaan yang layak sehingga kemiskinan akhirnya terangkat. Dengan fokus yang jelas pada obsesinya membangun perdamaian, kinerja seluruh insan kedua negara untuk bergerak bersama mewujudkannya pun semakin mudah.
Pemimpin perlu menyadari kebiasaan-kebiasaan yang sering kali terjadi secara otomatis. Sibuk berinteraksi dengan telepon pintarnya ketika berhadapan dengan anak buahnya akan menunjukkan prioritasnya bukan pada mereka. Action speaks louder than words.
Ketiga, mengatur ekspresi emosi diri. Kita tahu bahwa emosi itu menular. Kita memahami bahwa seorang pemimpin memiliki beban tanggung jawab terbesar sehingga tidak jarang mengalami panik bila menghadapi krisis atau kompetisi. Namun, tanggung jawab seorang pemimpin juga untuk mengatur ekspresi emosinya sehingga ia dapat mengatur emosi kelompoknya.
Dalam organisasi, ia perlu menyebarkan aura optimistis dan bersemangat, terlepas dari apa yang sedang dirasakannya. Ekspresi marah, acuh, dan sarkastik, hanya membuat suasana kerja menjadi suram. Memang berempati pada kesalahan bawahan bukan perkara mudah, apalagi dalam keadaan mendesak dan panik.
Namun, dengan meyakini bahwa emosi yang salah justru dapat semakin memperburuk situasi, kita akan lebih terampil mengatur wajah dan ekspresi dengan lebih baik. Take a deep breath before you speak, because your mouth acts quicker than your brain.
Keempat, refleksi diri dan memeriksa apakah instruksi yang diberikan kepada bawahan juga kita lakukan pada diri sendiri. Pemimpin juga perlu membuka diri terhadap masukan, kritik, dan saran sehingga memahami kesulitan yang dialami anak buahnya dalam membangun nada yang diinginkannya dalam organisasi.
Pemimpin perlu berdiskusi sesering mungkin dengan kelompoknya, dalam gelombang yang sama dan sejajar untuk mendorong keterbukaan. Bukan hanya basa-basi manis yang mereka pikir ingin didengarkan oleh karyawan.