KOMPAS.com - Pusat Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi “Dua Negara, Taman Kembar” (Two Countries, Twin Parks) China-Indonesia diresmikan di Fuzhou, China, Selasa (18/11/2025).
Berfokus pada sejumlah bidang kerja sama utama, seperti pertanian tropis, perikanan laut, industri ringan dan tekstil, mesin dan elektronik, serta pertambangan ramah lingkungan, pusat inovasi itu hadir sebagai penggerak kolaborasi strategis. Tujuannya, untuk mendorong integrasi mendalam rantai industri dan percepatan transformasi teknologi yang efisien.
Hal ini menjadi cermin dari pesatnya perkembangan taman Fuzhou dalam proyek “Dua Negara, Taman Kembar” China-Indonesia.
Selama tiga tahun terakhir, pembangunan proyek “Dua Negara, Taman Kembar” China–Indonesia semakin cepat dan berkembang pesat. Inisiatif ini tidak hanya memperkuat fondasi kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral, tetapi juga mendorong integrasi regional dan pembangunan bersama.
Proyek tersebut juga menjadi jembatan penting bagi kerja sama dan pertukaran ekonomi dan perdagangan antara China dan negara-negara ASEAN, serta jalur krusial untuk perdagangan dan investasi terkait “Jalur Sutra Maritim Abad ke-21”.
Proyek itu merupakan sebuah “jabat tangan” hangat yang melintasi lautan. Pada Januari 2023, Dewan Negara Republik Rakyat China menyetujui pendirian zona percontohan bersama China–Indonesia untuk pengembangan ekonomi inovatif di Zona Investasi Yuanhong, Fuzhou.
Baca juga: Upaya China Wujudkan Tata Kelola HAM Global yang Baik
Persetujuan tersebut menandai dimulainya tahap implementasi komprehensif dan substansial dari proyek “Dua Negara, Taman Kembar” China–Indonesia.

Lantas, apa makna di balik jabat tangan tersebut? Simbol ini merepresentasikan interkoneksi industri, interoperabilitas fasilitas, dan timbal balik kebijakan.
Pada Sabtu (12/4/2025), kiriman pertama kelapa segar impor dari Indonesia tiba dengan lancar di Bandar Udara (Bandara) Internasional Changle, Fuzhou.
Setelah melalui inspeksi dan karantina, produk tersebut melewati bea cukai dengan cepat. Adapun pihak yang bertanggung jawab dari Fujian MiaoTianHui Food Co, Ltd menerima kelapa-kelapa tersebut di tempat.
“Hanya butuh lebih dari 20 jam untuk kelapa-kelapa ini dipetik di Indonesia dan dikirimkan kepada kami,” ujar perwakilan Fujian MiaoTianHui Food Co, Ltd dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (26/11/2025).
Baca juga: Menilik Upaya Xi Jinping dalam Memupuk Persahabatan China-Malaysia
Hal itu menandai terobosan dalam pengiriman kelapa. Sejak saat itu, kelapa dari Indonesia dikirim secara bertahap dan tiba di kawasan industri kelapa Zona Investasi Yuanhong di Fuzhou.
Berfokus pada tujuan “memanfaatkan sepenuhnya setiap bagian kelapa”, kawasan industri tersebut membentuk klaster industri transnasional yang mengintegrasikan beragam produk, seperti kelapa parut, susu kelapa, air kelapa, dan minyak kelapa.
Klaster tersebut mencakup seluruh rantai industri, mulai dari pengolahan awal hingga pengolahan lanjutan.
Saat ini, empat lini produksi beroperasi, mengonsumsi sekitar 1.400 ton kelapa per hari.
Mengambil kelapa sebagai contoh representatif, integrasi rantai industri lintas perbatasan terus berkembang. Saneheld (Fuqing) Food Co, Ltd juga bermitra dengan Salim Group Indonesia untuk mendirikan Global Indonesian Marine Fishery Center.
Baca juga: Xi Jinping Paparkan Visi Asia-Pasifik Menuju Era Keterbukaan Baru
Hingga saat ini, dua basis perikanan telah dibangun di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Keberadaan basis ini memperkenalkan sumber daya perikanan berkualitas tinggi Indonesia ke China sekaligus mendorong keunggulan komplementer dan integrasi mendalam sumber daya perikanan antara kedua negara.
Selain itu, basis manufaktur Honggang Textile di Indonesia yang dibangun dalam waktu satu tahun kini telah mulai beroperasi. Kehadiran fasilitas ini mengisi kekosongan dalam produksi kain serat kimia elastis fungsional berkualitas tinggi di Indonesia.
Hingga saat ini, terdapat 194 perusahaan industri yang beroperasi di Zona Investasi Yuanhong Fuzhou, termasuk 116 perusahaan industri di atas skala yang ditentukan.
Perusahaan tersebut berkolaborasi di lima rantai industri transnasional utama, yaitu perikanan laut, pertanian tropis, industri ringan dan tekstil, mesin dan elektronik, serta pertambangan ramah lingkungan.
Pada 2024, output perusahaan industri di atas skala ini (merujuk pada perusahaan industri yang memenuhi standar skala tertentu) mendekati 30 miliar yuan (dengan nilai tukar 1 yuan setara Rp 2.346).
Baca juga: Melihat dari Dekat Peran China dalam Pemberdayaan Perempuan di Asia dan Afrika
Perusahaan dalam kategori itu merujuk pada badan hukum industri yang memiliki omzet bisnis utama tahunan sebesar 20 juta yuan atau lebih.

Kolaborasi industri yang terus diperdalam juga didukung oleh peningkatan kapasitas kawasan secara berkelanjutan. Baru-baru ini, tiga derek gantry ban karet (rubber tired gantry cranes) tipe baru dipasang di Dermaga 1 dan 2 di Area Operasi Yuanhong, Pelabuhan Songxia, Pelabuhan Fuzhou.
Penanggung jawab proyek menjelaskan, setelah derek gantry ban karet tipe baru mulai beroperasi, peralatan tersebut akan terintegrasi secara mendalam dengan Terminal Operating System (TOS) pelabuhan.
“Integrasi ini memungkinkan proses kerja yang sepenuhnya otonom, mulai dari penerimaan perintah, perencanaan jalur, hingga pencengkeraman dan penumpukan peti kemas, serta memberikan dasar yang lebih kuat bagi peningkatan efisiensi penanganan kontainer di Pelabuhan Fuzhou secara menyeluruh,” terangnya.
Setelah Dermaga 1 dan 2 rampung, kapasitas keluaran tahunan Area Operasi Yuanhong diperkirakan meningkat menjadi 10 juta ton.
Baca juga: Bawa Kemakmuran di Jalur Sutra Kuno, Kerja Sama China dengan Asia Tengah Disambut Baik Banyak Pihak
Peningkatan tersebut dapat memberikan kontribusi positif terhadap penguatan fasilitas pendukung logistik pelabuhan yang penting bagi inisiatif “Dua Negara, Taman Kembar” China–Indonesia, sekaligus meningkatkan kemampuan layanan dan daya saing internasional pelabuhan tersebut.
Selain itu, Zona Investasi Yuanhong di Fuzhou juga menjadi rumah bagi basis logistik rantai dingin yang berperan sebagai tulang punggung nasional di China. Dari total kapasitas penyimpanan dingin yang direncanakan sebesar 1,05 juta ton, sebanyak 500.000 ton di antaranya telah rampung dibangun.

Zona tersebut juga dilengkapi dengan laboratorium inspeksi dan pengujian makanan, lokasi resmi untuk pengawasan impor biji-bijian dan daging, serta area karantina dan pengawasan lengkap dengan platform inspeksi untuk hasil tangkapan perikanan lepas pantai.
Bea cukai, maritim, dan departemen lainnya telah membuka layanannya di balai layanan pemerintah, menghadirkan sistem penerimaan satu pintu dan layanan satu atap.
Perusahaan yang beroperasi di zona itu dapat menikmati kebijakan preferensial, seperti dukungan keuangan, subsidi untuk investasi transformasi teknologi, serta program promosi merek.
Baca juga: Trump Akhirnya Bertemu Xi Jinping, Prabowo: Sangat Pengaruhi Ketenangan Dunia
Tahun ini menandai peringatan 75 tahun terjalinnya hubungan diplomatik antara China dan Indonesia.

Sebagai proyek unggulan baru di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra, proyek “Dua Negara, Taman Kembar” China–Indonesia terus menunjukkan kemajuan pesat.
Inisiatif tersebut diproyeksikan menjadi sarana penting bagi keterbukaan berstandar tinggi, penghubung vital untuk kerja sama serta pertukaran ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara ASEAN, platform strategis bagi pembagian kerja dan kolaborasi internasional di bidang industri dan rantai pasokan, serta jalur utama bagi perdagangan dan investasi di sepanjang Jalur Sutra Maritim Abad ke-21.
Taman tersebut memiliki area yang direncanakan seluas 61 km persegi, dengan 12,6 km persegi di antaranya telah berhasil dikembangkan. Angka ini menunjukkan bahwa masih tersedia ruang eksplorasi yang sangat luas serta potensi besar yang dapat terus dimaksimalkan.
Bunga persahabatan yang ditanam melalui kolaborasi lintas lautan itu pun ditakdirkan untuk mekar semakin indah, mengantar kedua negara pada keterhubungan yang kian erat. (Jiang Yachen)