KOMPAS.com- Di tengah meningkatnya guncangan perdagangan dan ketidakpastian geopolitik, Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menghadiri Pertemuan Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) ke-32 di Korea Selatan dalam beberapa hari mendatang.
Kehadiran Xi bukan sekadar kunjungan diplomatik, melainkan jadi langkah penting untuk membangun kembali konsensus di antara negara-negara anggota demi kesejahteraan bersama.
Melalui forum tersebut, Xi diperkirakan akan menegaskan kembali komitmen China terhadap globalisasi ekonomi yang terbuka dan inklusif.
Dinamika global yang semakin kompleks juga menuntut negara-negara Asia-Pasifik memperkuat kerja sama agar tetap stabil dan tangguh.
Baca juga: Xi Jinping dan Trump Bertemu di Busan, Soroti Perdamaian Global
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik akan melambat dari 4,5 persen pada tahun ini menjadi 4,1 persen pada 2026.
Proyeksi tersebut menjadi pengingat bahwa semangat kolaborasi perlu dijaga agar momentum pertumbuhan tidak terhenti.
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, memperkuat kerja sama ekonomi regional menjadi kunci untuk menjaga ketahanan sekaligus memastikan keberlanjutan pertumbuhan.
Oleh karenanya, forum APEC menjadi wadah penting bagi para pemimpin untuk mencari solusi bersama menghadapi tantangan ekonomi regional yang semakin kompleks.
Baca juga: Trump Tiba di Korea Selatan, Bahas Perdagangan dan Pertemuan dengan Xi Jinping
Dalam forum itu, Xi diperkirakan akan meneguhkan kembali visi yang telah lama ia anut mengenai pentingnya ekonomi Asia-Pasifik yang terbuka dan inklusif.
Bagi Xi, kawasan yang dinamis ini bukan sekadar pusat pertumbuhan, melainkan mesin utama yang mampu mendorong pemulihan dan kemajuan ekonomi global.
Melalui semangat kerja sama dan keterbukaan, Asia-Pasifik diharapkan tetap menjadi penggerak utama perekonomian dunia di tengah perubahan global yang cepat.
Pada 2025, anggota APEC secara kolektif menyumbang lebih dari 60 persen total produk domestik bruto (PDB) dunia.
Baca juga: Prabowo Berangkat ke Korea Selatan Hari Ini, Hadiri KTT APEC
Bagi Xi, kawasan ini menjadi prioritas utama dalam upaya memajukan perdagangan bebas dan memperkuat kerja sama ekonomi regional.
Didorong oleh visi tersebut, China terus memperdalam hubungan ekonominya dengan 20 anggota APEC lainnya.
Dari jumlah itu, 15 negara telah menjalin kemitraan perdagangan bebas dengan China. Langkah ini mencerminkan strategi jangka panjang Beijing untuk memperkuat konektivitas ekonomi dan memperluas akses pasar di kawasan.
Malaysia menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan pendekatan tersebut. Selama 16 tahun berturut-turut, China menjadi mitra dagang terbesar negara itu.
Baca juga: Bersih-bersih Koruptor di Tubuh Pemerintah China, Xi Jinping Pecat 9 Jenderal
Dalam salah satu artikel bertanda tangan yang diterbitkan pada April 2025 menjelang kunjungannya ke Malaysia, Xi menyatakan bahwa durian Malaysia kini dapat dikirim langsung dari kebun ke supermarket China dalam waktu 24 jam. Ini karena buah tersebut kini semakin populer di kalangan konsumen China.
Pernyataan itu menggambarkan semakin eratnya hubungan dagang antara kedua negara itu.
Hubungan ekonomi tersebut semakin berkembang saat China membuka pasarnya lebih luas untuk durian asal Malaysia pada Juni 2024.
Pada tahun yang sama, nilai perdagangan kedua negara mencapai rekor 212 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 3.525 triliun (dengan kurs 1 dolar AS setara Rp16.622). Capaian itu terjadi di tengah tren perlambatan ekonomi global.
Baca juga: PM China Ajak Indonesia Perluas Kerja Sama dan Jaga Perdagangan Bebas
Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur, Xi menyampaikan kepada Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim yang juga menjabat Ketua ASEAN pada 2025 bahwa China siap bekerja sama dengan negara-negara di kawasan untuk memanfaatkan stabilitas dan kepastian Asia guna melawan ketidakstabilan dan ketidakpastian global.
Menanggapi hal tersebut, Anwar menegaskan bahwa ASEAN menolak pengenaan tarif sepihak dan akan terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi melalui kolaborasi.
Komitmen Xi terhadap keterbukaan dan kerja sama bukan hal baru. Pada 2018, saat membuka Pameran Impor Internasional China pertama di Shanghai, ia menegaskan bahwa sejarah menunjukkan keterbukaan dan kerja sama sebagai kekuatan pendorong utama di balik aktivitas ekonomi dan perdagangan internasional yang dinamis.
Pada masa ketika unilateralisme dan proteksionisme menguat, Xi justru memilih arah berbeda dengan membuka lebar pintu perekonomian China.
Baca juga: Di Depan Putin dan Xi Jinping, Prabowo Puji BRICS Punya Kekuatan Ekonomi Terbesar Dunia
“China tidak akan mengubah tekadnya untuk memperluas keterbukaan tingkat tinggi,” ujar Xi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (30/10/2025).
Arah itu tidak lahir seketika. Pada 1980-an, ketika keterbukaan China baru dimulai, demikian pernah disampaikan Xi.
Meski begitu, Ia sudah berpikir jauh ke depan. Ia melihat potensi kota pesisir di tenggara China tersebut untuk berkembang pesat melalui pembangunan pelabuhan bebas.
Pemikirannya itu mulai terlihat pada 1987. Saat Singapura telah menjadi pusat perdagangan dan logistik global, Xi memimpin tim peneliti ke negara tersebut.
Baca juga: Parade Militer Beijing, Xi Jinping Pamer Senjata Canggih Buatan China kepada Dunia
Tujuannya, untuk mempelajari pengelolaan sistem pelabuhan bebas di sana. Langkah ini dilakukan jauh sebelum APEC didirikan.
Pengalaman awal tersebut menjadi fondasi bagi Xiamen untuk berkembang menjadi zona ekonomi khusus bergaya pelabuhan bebas.
Dari sini, tampak bahwa keterbukaan kelak menjadi ciri khas strategi Xi dalam menghubungkan China dengan dunia.
Garis besarnya kemudian terus berlanjut. Visi keterbukaan berkembang dari uji coba tingkat lokal di zona reformasi pesisir menjadi strategi keterlibatan internasional yang lebih luas.
Baca juga: Di Balik Berkumpulnya Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Kim Jong Un Saat Parade Militer China...
Dalam mempromosikan perdagangan bebas serta memperjuangkan multilateralisme, Xi menempatkan kerja sama terbuka sebagai landasan pembangunan China dan peran negaranya di kancah global.
Sejak pertama kali hadir dalam forum APEC pada 2013, ketika Xi memulai debutnya dalam pertemuan pemimpin APEC, ia telah menetapkan arah yang jelas bagi kebijakan luar negeri dan ekonomi China.
Saat itu, ia menegaskan komitmen untuk membangun kerangka kerja sama regional yang mencakup kedua sisi Samudra Pasifik serta memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat.
Visi tersebut kemudian menjadi fondasi utama dalam pendekatan China terhadap kerja sama ekonomi internasional.
Baca juga: Momen Xi Jinping Bahas Kemungkinan Hidup 150 Tahun Saat Bersama Putin dan Kim Jong Un...
Janji yang disampaikan Xi pada awal masa kepemimpinannya itu mulai menunjukkan hasil nyata dalam satu dekade terakhir.
Setahun kemudian, pada 2014, Xi menyambut para pemimpin APEC di Beijing sebagai tuan rumah forum tersebut.
Dalam pertemuan itu, para pemimpin mengadopsi “Peta Jalan Beijing” yang secara resmi memulai proses menuju pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas Asia-Pasifik atau Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP).
Langkah ini menandai babak baru dalam upaya memperkuat keterbukaan dan integrasi ekonomi di kawasan.
Baca juga: Dalam Sambutan KTT, Xi Jinping Kecam Perilaku Intimidasi
Kini, di bawah kepemimpinan Xi, arah menuju FTAAP semakin jelas. Di bawah kepemimpinan Xi, China sepenuhnya menerapkan komitmen dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) sekaligus mendorong pembangunan berkualitas tinggi di kawasan tersebut.
Sebagai zona perdagangan bebas terbesar di dunia, RCEP menghubungkan 15 negara di kawasan Asia-Pasifik dengan 12 di antaranya merupakan anggota APEC.
Keberadaan RCEP pun memperkuat saling ketergantungan ekonomi dan memperluas peluang pertumbuhan di kawasan ini.
Agenda perdagangan bebas yang diusung Xi pun terus mendapatkan momentum baru. Salah satu wujud terlihat ketika China dan ASEAN menandatangani perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN Versi 3.0 atau China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) 3.0 pada Selasa (28/10/2025).
Baca juga: Xi Jinping Undang Putin Hadiri KTT SCO, Forum Tandingan Barat
Kesepakatan ini menjadi langkah penting untuk memperdalam integrasi ekonomi kawasan sekaligus memperkuat posisi Asia-Pasifik sebagai motor utama pertumbuhan global.
Sekretaris Jenderal Sekretariat Kerja Sama Trilateral (Trilateral Cooperation Secretariat/TCS) Lee Hee-sup mengatakan, dengan mengejar multilateralisme dan perdagangan bebas, China memainkan peran utama dalam berbagai mekanisme multilateral di kawasan Asia-Pasifik, termasuk RCEP, TCS, ASEAN+3, dan APEC.
TCS sendiri merupakan organisasi internasional yang mempromosikan kerja sama antara China, Korea Selatan, dan Jepang.
"China diharapkan dapat terus menunjukkan kepemimpinannya melalui jaringan mekanisme yang bersifat organik ini dan mendorong upaya menuju kerja sama regional serta integrasi ekonomi," ujar Lee.
Baca juga: Prabowo-Xi Jinping Disebut Punya Ikatan Pribadi, Saling Kirim Surat
Perjalanan pertama Xi ke forum APEC bertepatan dengan tonggak penting lain dalam kebijakan luar negeri China.
Pada 2013, saat menghadiri pertemuan APEC di Indonesia, Xi juga melakukan kunjungan kenegaraan ke Jakarta.
Dalam kesempatan itu, ia mengusulkan gagasan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang kemudian menjadi komponen utama dari Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra atau Belt and Road Initiative (BRI).
Sejak diluncurkan, inisiatif tersebut mampu berkembang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang kuat karena menghubungkan berbagai negara di kawasan Asia Pasifik dan membentuk ulang jalur perdagangan internasional.
Baca juga: BRICS Diharapkan Tetap Netral, Bukan Jadi Blok Baru
Lebih dari satu dekade kemudian, jaringan kerja sama yang berakar dari BRI terus meluas. Pada April 2025, dalam kunjungan kenegaraan ke Vietnam, Xi bersama pemimpin Vietnam To Lam memulai pembahasan mengenai pembangunan jalur kereta yang menghubungkan kedua negara.
Proyek ini akan memperluas jaringan transportasi BRI di kawasan Asia Tenggara dan melengkapi proyek-proyek penting lainnya, seperti jalur kereta China–Laos, China–Thailand, jalur kereta cepat Jakarta–Bandung, serta Jalur Kereta Pesisir Timur Malaysia.

Jangkauan BRI kini tidak lagi terbatas di Asia. Pada November tahun lalu, Xi mengunjungi Peru untuk meresmikan Pelabuhan Chancay, gerbang maritim baru yang menghubungkan Asia Pasifik dengan Amerika Latin.
Pelabuhan tersebut sangat efisien karena berhasil memangkas waktu pengiriman barang dari Peru ke China menjadi hanya 23 hari dan menurunkan biaya logistik hingga 20 persen.
Baca juga: Belt & Road Summit ke-10: Hong Kong Dorong Investasi dan Kolaborasi dengan ASEAN
Dalam peresmian itu, Xi memaparkan visinya agar Chancay menjadi simpul penting dalam perdagangan global, dengan mendorong logistik melalui koridor transportasi, meningkatkan perdagangan lewat efisiensi logistik, serta menggerakkan industri melalui peningkatan arus perdagangan.
Seiring semakin kuatnya koneksi fisik antarnegara, Xi juga menekankan pentingnya membentuk konektivitas lain yang bersifat nonfisik serta menjaga stabilitas rantai industri dan pasokan global.
Di tengah meningkatnya risiko pemisahan dan fragmentasi rantai pasok dunia, Xi berpendapat bahwa negara-negara seharusnya memandang saling ketergantungan ekonomi sebagai peluang untuk melengkapi kekuatan masing-masing dan meraih keuntungan bersama, bukan sebagai sumber risiko.
Dalam pandangan Xi, di era globalisasi ekonomi, dunia tidak memerlukan celah perpecahan, melainkan jembatan komunikasi.
Baca juga: Indonesia Jadi Rujukan BRICS dalam Merawat Kerukunan Umat
Ia percaya bahwa yang dibutuhkan bukan tirai besi konfrontasi, tetapi jalur-jalur kerja sama yang saling menguntungkan.
Pandangan tersebut menjadi landasan bagi pendekatan dalam membangun hubungan internasional yang lebih terbuka dan inklusif.
Komitmen itu kembali ia tunjukkan pada akhir Maret 2025 ketika Xi bertemu dengan lebih dari 40 CEO dan pemimpin bisnis global di Beijing.
Pertemuan tersebut membahas arah dan tantangan lanskap bisnis dunia saat ini. Dalam kesempatan itu, Xi menyampaikan pesan yang sederhana tetapi berkesan.
Baca juga: Xi Jinping Ibaratkan Ekonomi China Seperti Samudra, Tahan Guncangan
“Saya sering mengatakan bahwa memadamkan cahaya orang lain tidak akan membuat cahaya Anda bersinar lebih terang dan menghalangi jalan orang lain hanya akan menghalangi jalan Anda sendiri,” kata Xi.
Melalui pernyataan itu, Xi menegaskan kembali pentingnya peran sektor swasta dan bisnis asing dalam mendorong keterbukaan ekonomi China.
Ia juga berjanji akan memberikan kemudahan sebesar-besarnya bagi perdagangan dan investasi di negaranya.
Pesan tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta pertemuan, termasuk dari Presiden Dewan Bisnis AS–China Sean Stein.
Baca juga: Ambisi Beijing Bangun Jalur Sutra Darat, Barang dari China Langsung Tembus Eropa
“Seusai mendengar pidato Xi, saya menilai berinvestasi di China itu berarti berinvestasi di masa depan,” terang Sean.
Bagi Xi, konektivitas tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur fisik, seperti baja dan beton, tetapi juga tentang hubungan antarmanusia.
Ia meyakini bahwa pertukaran budaya dan saling pengertian akan menjadi fondasi bagi kerja sama yang berkelanjutan.
Untuk itu, China terus memperluas kebijakan bebas visa dan meningkatkan berbagai inisiatif budaya guna membuka akses yang lebih luas bagi dunia untuk mengenal China.
Baca juga: Timor Leste Jadi Anggota Baru ASEAN, Babak Baru Persaingan AS-China di Asia Tenggara
Langkah tersebut telah membuahkan hasil dengan meningkatnya jumlah pengunjung asing ke negara itu setiap tahun.
Semangat konektivitas yang diusung Xi juga tampak jelas dalam Pertemuan Pemimpin APEC 2024 di Peru.
Dalam kesempatan itu, percakapan antara Xi dan Presiden Chile Gabriel Boric berlangsung hangat dan personal.

Boric mengenang sebuah momen di kampung halamannya sebelum berangkat ke Peru.
Baca juga: PM China Li Qiang Sampaikan Salam dari Xi Jinping ke Prabowo
“Saya diundang ke pameran buku internasional di Santiago. Semua karya Anda (Xi) dipamerkan di sana, berdampingan dengan karya para penyair, penulis, dan seniman China,” tutur Boric kepada Xi.
Dalam pertemuan itu, Boric juga menyerahkan kepada Xi sebuah salinan buku berbahasa Spanyol berjudul Xi Jinping: The Governance of China, Volume IV dan memintanya untuk menandatangani buku tersebut.
Di aula yang dipenuhi kata-kata dan tinta, kedua pemimpin itu tampak seolah menjembatani jarak antar benua melalui dialog budaya.
“Hal ini membuat saya sangat senang. Perkembangan hubungan kedua negara di masa depan akan mendapat manfaat dari berbagai perjanjian kerja sama kami, dan terlebih lagi dari dialog budaya serta pertukaran pendidikan,” ucap Boric.
Baca juga: Prabowo: BRICS Pilar Kuat Stabilitas Geopolitik Saat Ini
APEC lahir pada momen penting ketika gelombang globalisasi ekonomi mulai mengemuka.
Sejak awal, forum tersebut memiliki misi yang jelas, yakni mendorong keterbukaan dan memperkuat integrasi ekonomi di kawasan.
Selama puluhan tahun, komitmen tersebut melahirkan apa yang dikenal sebagai “Keajaiban Asia-Pasifik”, sebuah periode pertumbuhan dan transformasi luar biasa yang membentuk ulang perekonomian global.
Bagi Xi, semangat kepeloporan yang melandasi lahirnya APEC harus berlanjut. Oleh karena itu, ia selalu menegaskan bahwa kerja sama Asia-Pasifik harus berani memimpin dunia.
Baca juga: Momen Prabowo Family Photo dengan Pemimpin Global di KTT APEC 2024
Saat APEC menandai usia ke-30 tahun, Xi kembali mengajukan pertanyaan penting di hadapan para pemimpin kawasan, yakni bagaimana Asia-Pasifik dapat menciptakan 30 tahun emas berikutnya dalam pembangunan?
Jawaban yang disampaikannya tetap konsisten, yakni membangun komunitas Asia-Pasifik dengan masa depan bersama.
Pada 2020, APEC meluncurkan Visi Putrajaya 2040, sebuah cetak biru jangka panjang yang menargetkan terwujudnya komunitas Asia-Pasifik yang terbuka, dinamis, tangguh, dan damai pada 2040.
Xi memahami bahwa setiap negara memiliki kondisi nasional dan harapan yang berbeda-beda.
Baca juga: Prabowo Tekankan APEC Harus Mampu Jadi Jembatan untuk Ketahanan
Namun, menurutnya, yang terpenting adalah kemampuan untuk mengatasi perbedaan melalui konsultasi dan kerja sama dalam menghadapi tantangan bersama.
Ia bahkan merujuk pada kearifan kuno China untuk menggambarkan semangat APEC sebagai keluarga perekonomian yang terhubung oleh hamparan luas Samudra Pasifik.
“Kebaikan tertinggi bagaikan air yang memberi manfaat bagi segala sesuatu tanpa saling bersaing,” ujar Xi.
Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa Samudra Pasifik yang luas cukup besar untuk menampung semua pihak, sebuah ungkapan yang mencerminkan pandangannya tentang koeksistensi dan kerja sama yang setara.
Baca juga: Xi Jinping Telepon Prabowo, Bicarakan Apa?
Semangat tersebut tidak hanya tecermin dalam dorongan Xi untuk memperkuat kolaborasi China dengan negara-negara regional, tetapi juga dalam upayanya membantu menghadapi tantangan global yang mendesak, terutama perubahan iklim.
Pada Februari 2025, Xi mengundang Sultan Brunei Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah berkunjung ke China sekaligus menghadiri pembukaan ajang Asian Winter Games kesembilan di Harbin, China timur laut.
Menjelang ajang tersebut, kedua pemimpin menggelar pertemuan di Beijing untuk membahas berbagai sektor kerja sama, baik sektor yang sedang berkembang maupun sektor tradisional.
Pembahasan meliputi industri baru, seperti ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), energi baru, serta bidang kerja sama yang telah lama terjalin, seperti pertanian dan perikanan.
Baca juga: Xi Jinping Kumpulkan CEO Perusahaan Multinasional di Beijing
Brunei, yang akan menjadi tuan rumah Pusat Perubahan Iklim ASEAN (ASEAN Center for Climate Change) juga akan memperkuat kemitraan dengan China dalam aksi iklim regional.
Bagi Xi, kemitraan ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Ia menekankan bahwa China dan Brunei menjadi contoh bagaimana negara besar dan kecil dapat saling memperlakukan sebagai mitra yang setara sekaligus mengejar manfaat bersama melalui kerja sama yang saling menguntungkan.
Ke depan, Xi memandang kawasan Asia-Pasifik akan tetap menjadi “lokomotif” globalisasi.
Gelombang baru perubahan teknologi dan industri kini tengah mendorong peralihan dunia menuju ekonomi digital, hijau, dan cerdas. Menurut Xi, transformasi ini sedang membangun momentum kuat bagi fase globalisasi berikutnya.
Baca juga: Xi Jinping Temui Jack Ma dan Bos Teknologi, Sinyal Dukungan ke Swasta?
Ia menggambarkan perekonomian dunia seperti sedang berada dalam tarik-menarik antara kekuatan pendorong dan kekuatan penghambat.
Ke depan, Xi meyakini bahwa kekuatan yang mendorong integrasi akan keluar sebagai pemenang.
“Selama kita bertindak dengan semangat keterbukaan dan konektivitas, Samudra Pasifik yang luas akan menjadi jalan bersama menuju kemakmuran dan pertumbuhan yang lebih besar,” kata Xi.